Deep Talk in Deep Learning: Strategi Humanis untuk Menyelami Beban dan Menumbuhkan Penguatan
Kasus guru dan murid di Gorontalo yang terjadi pada September 2024 lalu, menamparku sebagai seorang guru. Bagaimana mungkin, di sebuah sekolah besar yang disana ada puluhan guru dan ratusan murid, terdapat seorang siswa yang merasa sendiri dan tidak punya tempat untuk berbagi?
Malam hari kubaca tuntas kasus itu, kutelusuri berbagai sudut pandang. Kutemukan fakta-fakta yang mencengangkan. Paginya, aku masuk kelas dengan mata yang terasa kering. Namun di kelas, kembali basah. Kuawali pembelajaran dengan membawa kasus tersebut. Hari itu berlalu dengan sabak. Ada yang menangis sendiri sesegukan, ada pula yang saling berpelukan. Ada yang mampu menulis hingga tuntas, ada yang tak mampu melanjutkan tulisannya.
---
"Bu, jangan bacakan ya Bu," pinta seorang siswi perempuan lirih sembari menyerahkan tulisannya, bibirnya bergetar. Kubuka halaman yang sudah ditandainya. Aku terkejut mengetahui bahwa anak secantik ini ternyata tidak punya percaya diri, bahkan untuk angkat tangan saat diabsen saja dia gemetar. Kupanggil dia ke depan. Kugali apa yang terjadi di rumah, bagaimana dia diperlakukan: sering dibentak, tidak pernah didengar. Dia tidak pernah merasa terlindungi. Sehingga dia tidak punya rasa percaya terhadap orang lain, lebih-lebih dirinya sendiri.
Seorang anak laki-laki yang dalam kesehariannya terlihat ceria, ternyata menyimpan cerita pahit: tidak pernah diapresiasi, diskriminasi dan kekerasan verbal. Punya rumah dan orangtua yang lengkap namun tidak tau kemana harus pulang. Pernah berniat membunuh ayahnya namun gagal. Kehilangan semangat hidup, kehilangan arah. "Kau butuh solusi?" tanyaku.
"Tidak, bu, aku hanya butuh didengar."
Dia pamit, menyalamiku, tangannya gemetar.
Dalam pembelajaranku berikutnya, aku berusaha memberi mereka ruang untuk tumbuh pelan-pelan. Kupancing agar mau bicara. Kuberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya di depan kelas. Kuminta dukungan dari teman-temannya. Kubangun ekosistem yang saling menguatkan.
Kemarin, pada beberapa cabang FLS3N, mereka berhasil mewakili Kabupaten. Aku menyalami mereka pada waktu yang berbeda. Namun yang sama, gemetar di tangan mereka sudah tidak ada.
Di tengah keadaan zaman yang penuh tantangan, aku menyadari bahwa yang harus kuberikan pada murid bukan hanya ilmu, namun juga penguatan. Menurutku, pembelajaran mendalam tidak akan tercapai jika guru tidak mampu 'menyentuh jiwa' peserta didik. Pendekatan humanis diperlukan untuk melanjutkan metode ini, salah satunya adalah dengan melakukan: 'Deep Talk In Deep Learning'.
Menyiapkan ruang untuk bicara dan bercerita ditengah padatnya materi pelajaran, adalah sebuah solusi untuk mendekati siswa. Ketika mereka didengar, mereka akan merasa dihargai, dari sana akan tumbuh semangat belajar, kemauan untuk mencapai tujuan dan tekad untuk berprestasi.
Komentar
Posting Komentar