Rabu, 24 April 2013

Ibu, Tolong Aku



Aku tidak pernah menyalahkan keadaan ini. Justru sebaliknya, aku bahagia, karena dengan kondisi seperti ini, aku bisa merasakan bagaimana hidup itu sesunggugnya. Sesuap nasi itu bagaikan sebongkah emas. Butiran yang terlalu berharga untuk tidak ku maknai. Aku melangkah dari sebuah kisah hidup penuh warna. Meski hanya aku saja yang menyebutnya begitu. Aku yakin, dan sangat yakin  bahwa bagi kebanyakan orang ini adalah kondisi yang memprihatinkan, sebuah garis hidup yang tidak layak untuk bersandar pada kata syukran, potret kehidupan yang menyalahkan tuhan, hari-hari yang penuh dengan ratapan dan sejumlah anggapan memilukan lainnya.

Banyak cara yang digunakan manusia untuk melakukan komparasi strata. Sebenarnya kemiskinan itu tidak pernah ada. Dia kemudian muncul hanya karena ada istilah yang mempunyai pengertian berlawanan. Begitupun sebaliknya, kaya itu juga tidak akan ada tanpa adanya orang miskin. Harusnya mereka, para orang-orang kaya berterima kasih kepada kami, elit-elit miskin yang bagi sebagian mereka tidak pantas menghuni bumi, karena berkat kamilah mereka mendapatkan gelar sombong itu. Tak apa, mereka mendendangkan kemenangan di atas seruling sumbang kami, juga tak mengapa,  mereka membisikkan kepada alam bahwa keberadaan kami meresahkan. Kami tak peduli itu, yang kami tahu, dunia ini milik bersama.

Manusia begitu paham bahwa kehidupan itu selalu berputar. Kondisi yang paling menakutkan adalah ketika berada pada titik yang kami tempati sekarang. Khawatir jika kejamnya hidup benar-benar akan dirasakan dan cemas bahwa titik ini akan mematikan. Disinilah letak kehebatan kami. Kami punya sejuta cara mencerdasi titik ini. Kemiskinan itu menyedihkan, jika kita yang menganggapnya demikian. Ia akan menjadi momok menakutkan, jika kita menganggapnya sebagai hantu kehidupan. Dan inilah aku, aku yang mengolah kemiskinan menjadi sebuah kekayaan.
***

Syurgaku adalah bagian dari Kota Jakarta. Di tempat inilah aku mengawali hidup sebagai seorang manusia bersama bapak, ibu dan ketiga kakakku. Pagi ini aku kembali menyalami mereka, seperti hari-hari  biasa. Meski dengan pakaian dan sepatu seadanya, aku tetap bersemangat menjalani proses untuk menjadi manusia yang dipandang. Tekadku sudah bulat, bahwa aku akan mengubah keadaan ini menjadi lebih baik. Aku memulai hari dengan selalu memperbaharui niat, merebut peluang keberhasilan yang dulu sempat mereka sia-siakan. Entah yang terbesit di dalam hati ini, sama dengan apa yang ada dalam hati Aini, sahabatku. Saat aku  memperbaiki kerudung putihku yang posisinya sempat berganti, teriakan Aini menyadarkanku untuk tidak berlama-lama lagi. Dia selalu datang lima belas menit sebelum pelajaran dimulai.

            “Yuk, kita berangkat.”
            “Ayuk.” Sambutku sambil menyerahkan tangan. Kami selalu bergandengan menuju sekolah. Jika ada ulangan, kami akan bertanya jawab sepanjang perjalanan. Terkadang aku sengaja menanyakan kemungkinan soal yang paling susah kepada Aini. Aku memanfaatkan hafalannya. Tapi dia tidak pernah marah. Aku lebih cepat  menyerap pelajaran yang ku dengar dari teman, bukan dari guru. Saat dia menjawab pertanyaanku, maka dengan gesit aku akan menyimpannya pada file-file di otakku. Dari dulu aku selalu menyempurnakan hafalan dengan cara seperti itu. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Setiap tahun setidaknya aku masuk ke peringkat lima besar di kelas.

            ‘Dokter’, aku tak pernah absen mencamtumkan provesi itu sebagai  cita-citaku. Cita-cita yang dianggap pasaran dan impian yang terlalu naif bagi orang-orang seperti kami. Tapi itu terserah, aku akan tetap berusaha meraihnya. Sederhana, aku ingin mengobati ibu, agar tumor yang ada di ketiaknya bisa ku sembuhkan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.   Sehari-hari keluargaku berjibaku dengan benda-benda kumuh, sampahnya orang kaya. Mereka membuangnya begitu saja, dan kami yang akan memungutnya menjadi pengganjal perut. Jika ada yang masih bisa digunakan, tak tertutup kemungkinan akan kami adopsi menjadi perlengkapan hidup. Seperti sepatu yang melekat di kaki ku ini, ini adalah sepatu hasil pulunganku beberapa waktu lalu. Bagian depannya yang selalu tersenyum ke arahku,  menyurutkan ego untuk memiliki sepatu baru.

            Selasa ini adalah giliranku yang menemani ibu di rumah sakit. Aku menyenangi tempat ini. Karena disini aku bisa melihat orang-orang rapi berbaju putih polos. Ahh, mereka benar-benar menanyakan kegihihanku untuk menjadi seperti mereka. Tak banyak yang aku bicarakan dengan ibu, hanya seputar menanyakan kondisi beliau saja, setelah itu aku akan memijit beliau, meski ibu tak pernah memintaku untuk melakukannya. Ibu lebih banyak diam, entah kenapa. Pertanyaanku yang harusnya dijawab panjang lebar hanya dibalas dengan satu kata, ya atau tidak. Biasanya ibuku tak begini.
***

            Aku masih mematung, menatap susunan hollow brick dan batako yang diselingi dengan semen itu. Petakan kecil ini adalah rumahku. Meski tak ada pembatas ruang, bagiku ini tetap rumah, bukan kandang. Ruang tengah yang sedang dipenuhi orang-orang letih ini multi fungsi, kami menggunakannya sebagai tempat makan, tidur dan bersantai. Tak ada kamar tidur, kami tidur bersusun satu keluarga. Ini adalah salah satu cara mencerdasi kemiskinan yang kami maksud. Spring bed dan kasur empuk bukan jaminan untuk tidur bahagia, kasur tipis yang tak beralaspun sudah menjadi bagian dari kenikmatan, karena kami memahaminya dengan cerdas, yang penting hidup, pemahaman bagian dari kekayaan.

            Bunyi jangkrik berhimpit dengan lalu-lalang kendaraan. Sudah jam dua belas malam rupanya. Jakarta memang tak pernah mati. Aku beralih. Memandangi manusia-manusia yang tengah menyelam di laut mimpi. Di samping kiriku ada bapak, dengan dengkurannya yang memualkan. Rambutnya mulai panjang tak terurus. Kumisnya kesana kemari. Keriput di wajahnya menyiratkan bahwa setengah abad sudah ia menapaki bumi Allah. Tarikan nafas kakak laki-lakiku saling berpacu dengan orang-orang di sebelahnya, ia tidur di samping kananku, memunggung. Jaket cokelat mudanya tak pernah diganti, bahkan sangat jarang lepas dari tubuhnya. Namun sesekali jaket itu sempat beristirahat, digantung. Setelahnya, ada dua kakakku lagi yang memanjang, memenuhi ruang.

            Aku mulai letih, mataku ingin istirahat dari tugasnya. Ku lantunkan do’a pengantar tidur dalam hati. Sepuluh jemariku meluncur dari kening hingga dagu, “aamiin”, lirihku.  Selimut usang bergaris kotak-kotak orange ku tarik, ku selimuti bapak. Besok akan ada ulangan matematika, aku sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Sudah belasan lembar kertas buram ku habisi, ku hajar habis-habisan, agar rumus dan langkah sulit bisa menempel di otakku. Pelajaran ini tidak begitu ku senangi, karena aku lebih cinta IPA, semuanya alami. Perlahan, gambar jantung dan angka-angka membayang di mimpiku.
***

“Pak, pak, apa-apaan ini?” tiba-tiba bapak mendengus seperti induk kerbau. Makin lama makin merapat ke arahku.
            “Pak, bapak mimpi?” aku mulai khawatir.
            “Tidak.” Cetus bapak pelan.
            “Lalu kenapa bapak bertingkah seperti ini?” desakku.

            Bapak tidak menjawab. Wajah bapak berubah sangar. Seram sekali. Seperti perampok yang sering ku lihat di tv-tv. Tarikan nafasnya tak beraturan. Bapak lalu menarik tanganku seraya berbisik, “Sudah, tidak apa-apa. Kau diam saja, ”
“Inikah bisikan syeitan yang disampaikan lewat suara manusia?” Tanyaku dalam hati.

            Menit-menit berlalu begitu berat. Ini perlakuan aneh yang tak pernah ku terima dari siapapun. Ya, aku tau bapak begitu menyayangiku, bahkan rasa sayang bapak ku rasakan begitu dalam jika dibandingkan dengan rasa sayang yang diberikan oleh ibu dan kakak-kakakku.  Tapi apakah perilaku ini yang merupakan puncak dari kasih sayang seorang ayah? Ahh, entahlah. Aku tak mengerti. Bapak terus melakukan tingkah yang membuat ku merasakan sakit yang teramat sangat. Beliau begitu memaksa. Dalam diam aku menutup mata, air mataku mengalir menahan sakit, bapak kian liar menjalar di tubuhku. Ada cicak belang, yang menangis melihat perlakuan bejadnya.

 Sepuluh tahun usiaku, di usia ini bapak menorehkan tinta hitam yang tak akan pernah luntur di ingatanku. Nyaris tak pernah ku bayangkan bahwa ayah kandungku sendiri tega melakukannya. Suara indah yang pertama kali ku dengar adalah suara bapak, ketika beliau melafazkan kalimat-kalimat Allah yang dulu dirangkai Bilal ke telingaku, saat aku baru melihat dunia, aku begitu terpana kala itu. Berkali-kali aku memuji Allah dalam hati kecilku. Nyatanya tak selamanya aku kagum akan keindahan suara bapak. Betapa aku tidak menyangka, bahwa suara buruk pertama kali yang harus ku dengar adalah suara yang datang dari mulut orang yang sama. Desahan-desahan iblis mengaum di telingaku. Hatiku terus memohon pertolongan Allah dalam kondisi yang mencekik masa depan ini.
***

            “Kamu kenapa?” Aini membaca kalutku.
            “Ah, aku... aku tidak apa-apa.”
            “Kamu sakit ya? Wajah kamu pucat, Raisa.”
“Aku tidak sakit. Mungkin karena kurang tidur. Aku dan kakak-kakakku bergantian menjaga ibu. Semalam kakakku tidak bisa, jadi aku yang menggantikannya.” Aku berdalih.
“Ooh, syukurlah.” Aini tersenyum, aku membalas senyumnya.

Perlakuan bapak semalam masih membayang di ingatanku, bulu kudukku
merinding mengingatnya. Tanganku terasa gemetar. Lututku menolak diajak berjalan.  Aku tak siap menjalani hari dengan kekacauan tak berperi. Sisa-sisa pemaksaan itu kian mencabik ulu hati. Pedihnya ke ubun-ubun. Aku tidak bisa berjalan seperti biasa. Ku sembunyikan itu dengan menggenggam erat tangan Aini. Sikapku yang tidak biasa membuatnya terkejut.

            “Raisa, kamu kenapa? Bicaralah.”
“Kepalaku sakit, Ai.” Terangku sambil memegang kepala, berat rasanya mengucapkan kata-kata penuh dusta itu.
            “Kalau begitu kamu istirahat saja di rumah. Aku antar pulang ya?”
“Tidak, Ai. Aku kuat kok. Hari ini kan kita ulangan. Aku juga sudah mempersiapkan diri semalam. Usahaku jadi sia-sia kalau aku tidak ikut ulangan. Besok-besok aku sudah pasti lupa.”
            “Yakin kamu kuat?”
            “Insyaallah.” Aini memapahku.

            Perjalanan  menuju sekolah terasa sangat jauh. Hatiku tak henti mengerang. Tiap kali aku melangkah, maka pada kali itulah aku meraung. Dari semalam aku tak berani buang air kecil, takut kalau-kalau yang keluar adalah darah. Aku tak tau harus bertanya kepada siapa tentang cara mengobati rasa sakit ini. Aku ingin cepat-cepat menjadi dokter saja rasanya, agar sebelum mengobati ibu, aku bisa mengobati diriku sendiri. Proses ulangan matematikaku hancur. Aku tak lagi ingat rumus dan langkah-langkah menjawab soal yang telah ku hajar semalam, malah soal ini yang balik menghajarku. Lembar jawabanku hanya diisi beberapa baris saja, itupun belum tentu benar. Aku terus menggali otak, membujuknya untuk kembali bekerja sama. Tapi perih ini lagi-lagi menggangguku, mendenyut seiring denyut nadiku. Ibu, tolong aku.
***

            Rumah pagi ini sepi. Aku baru selesai mandi. Kamar mandi seadanya. Mandi harus membungkuk sedikit agar tidak kelihatan.Baru pukul setengah tujuh, aku segera menggunakan seragam sekolah. Hanya ada aku dan bapak di rumah. Sejak peristiwa itu aku memang jarang bicara dengan beliau. Bapak menutup pintu, menguncinya. Lalu memperhatikan gerak-gerikku. Perasaan takut kembali ku rasakan. Gelagat mencurigakan bapak mulai ku cium, aku gemetar, memeluk handuk di sudut ruangan. Bapak berubah lagi. Menerkamku dalam kerumunan nafsunya. Naluri hewaninya menelan nuraninya sebagai bapak. Aku melawan sekuat tenaga. Menendang perut cekingnya dengan kakiku, tapi usahaku  sia-sia. Dia lebih kuat. Tubuhku dibolak-balik. Dia membenamkan aku ke dalam laut kejinya yang busuk. Torehan tinta hitam kemarin, kian mendalam.

            Tuhan, sebaiknya akhiri saja hidupku. Tubuhku tak lagi berasa ada. Aliran darah ini tersendat. Jantungku enggan berdetak. Luluh sudah segala asa yang ku gantungkan pada langit impian. Aku tidak akan pernah bisa mengobati ibu dan segenap balada sakitku. Aku terlalu lemah untuk ujian seberat ini, Ya Rabb. Selama ini aku tidak pernah menyesali takdirMu yang menetapkanku untuk lahir dalam syurga kemiskinan ini. Aku tak menyalahkan itu. Bagiku ini tetap kekayaan dari Mu. Maafkan bapak Ya Allah, yang  harus mengikuti rayuan syeitan karena tidak mampu bertarung melawan dirinya sendiri. Terima kasih pak, dengan cepat bapak mengantarkanku meraih mimpi, menggunakan baju putih polos. Aku siap jika harus menggunakan baju itu, meski dengan bahan berbeda dari yang ku cita-citakan.

Aku tau, disampingku ada ibu yang kemarin tergopoh-gopoh memboyongku ke rumah sakit. Ingin aku berteriak agar ibu tak membawaku ke sini. Tapi sakit itu membungkam mulutku. Aku meraih tangan kasar ibu yang kali ini terasa begitu lembut. Ku cium dengan penuh takzim, seperti yang biasa ku lakukan saat aku akan melangkah menuju tempat mengukir impian. Tangisan beliau terngiang beriringan dengan aliran sungai syurga di pelupuk mataku.

“Aku rindu ibu. Ada hal yang ingin ku ceritakan saat ibu tidak bersamaku. Bapak, bu.  Ahh... itu Malaikat Izrail, dia menjemputku. Aku masih ingin berlama-lama disamping ibu. Dia menarik ruhku, Bu. Sakiit. Bu, ibu.. tolong aku.”
***

Cerita pendek berjudul “Ibu, Tolong Aku” ini terinspirasi dari kisah nyata yang pernah
terjadi. Sebuah kasus pemerkosaan berujung maut yang menyayat hati, dikakukan oleh ayah kepada anak kandungnya sendiri, RI,  di kawasan Rawa Bebek, Jakarta Timur. Semoga karya saya bermanfaat.


Salam santun, salam karya!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar