Rabu, 24 April 2013

AYAH, HUJAN...



 "Bu, aku ingin di rumah saja hari ini."
"Kenapa?"
"Hujan."
"Hanya karena hujan?"
"Ya." dengan sedikit bahasa tubuh.

"Bu, ayah kemana?"
"Ke kantornya."
"Kantor?"
"Ya."
"Sejak kapan ayah jadi pekerja kantoran?"
"Sejak ayahmu mengerti tanggung jawab."
"Maksud ibu?"
"Coba kau tebak dimana dia sekarang."
"Di pasar."
"Benar."
"Lalu apa hubungannya?"
"Tanggung jawab itu membuatnya menjadi pertapa hujan. Tanggung jawab telah memayunginya dari deras rintik kehidupan. Dia tetap merasa teduh, layaknya orang-orang kantoran, meski di pasar, dengan terpal bocor dan kaki celanya yang disinsing dua-tiga gulungan."

Aku tertunduk. Menatap ubin-ubin kuning gading. Seakan mereka bertanya:
"Tidakkah kau malu pada ayahmu?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar